Dia mengungkapkan kebutuhan terhadap energi yang andal menjadi semakin penting ketika dunia menghadapi berbagai ketidakpastian. Eddy mengatakan Indonesia memiliki keunggulan karena sebagian besar kebutuhan listrik nasional masih ditopang batu bara.

Eddy juga mencontohkan kondisi ketika Selat Hormuz mengalami gangguan. Sejumlah negara langsung menghadapi persoalan pasokan energi, termasuk Singapura yang harus mencari pasokan gas alam cair (LNG) untuk memenuhi kebutuhan listriknya.

Menurutnya, batu bara masih menopang sekitar 65% listrik nasional pada 2026 dan berkontribusi sekitar 3,6% terhadap PDB. Produksi batu bara nasional pada 2025 mencapai 817,48 juta ton dengan PNBP mineral dan batu bara sebesar Rp130,2 triliun.

Di tengah perubahan pasar global, Eddy mendorong hilirisasi dan dekarbonisasi sebagai bagian dari strategi menghadapi penurunan permintaan terhadap batu bara Indonesia.

"CCS dapat digunakan untuk menekan emisi dari PLTU yang masih beroperasi, sementara hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah batu bara," ungkapnya.

Eddy menekankan penurunan peran batu bara harus diikuti kesiapan energi pengganti. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan EBT yang andal, transmisi, penyimpanan energi, serta sumber energi transisi sebelum pengurangan batu bara dilakukan secara signifikan.