NADIKABAR.COM — Para ekonom menyampaikan pandangan berbeda mengenai proyeksi BI-Rate pada Oktober 2026, antara tetap pada level 5,75 persen atau naik ke level 6 persen di tengah risiko arus keluar modal asing pascausulan reklasifikasi MSCI.
Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode Oktober akan diumumkan bank sentral pada Rabu siang ini.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky, dalam laporannya di Jakarta, Rabu, mengamini bahwa usulan reklasifikasi MSCI dan tekanan yang terus-menerus terhadap rupiah meningkatkan risiko arus keluar modal lebih lanjut yang dapat memperkuat argumen untuk kenaikan suku bunga jika tekanan nilai tukar semakin intensif.
Namun demikian, LPEM memperkirakan BI-Rate tetap dapat dipertahankan pada level 5,75 persen pada RDG bulan ini, sambil tetap bersiap untuk merespons jika tekanan terhadap rupiah semakin meningkat.
Riefky memaparkan kombinasi antara ketidakpastian eksternal yang terus berlanjut dan tekanan pasar domestik yang semakin meningkat membuat BI memiliki ruang gerak kebijakan yang terbatas.
Di samping risiko pascausulan reklasifikasi MSCI, ia mengingatkan tekanan inflasi baru di AS berpotensi membuat suku bunga AS tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama sehingga mempertahankan tekanan terhadap rupiah dan arus modal, sementara harga pangan dan bahan bakar yang tinggi mendekatkan inflasi domestik ke batas atas kisaran target BI.
Dengan kondisi meningkatnya ketidakpastian terkait kebijakan The Fed, Riefky mencatat bahwa arus portofolio asing ke Indonesia tetap bervariasi.
Antara pertengahan September dan pertengahan Oktober 2026, pasar keuangan Indonesia mencatat arus keluar portofolio asing bersih yang marginal sebesar 0,05 miliar dolar AS karena arus masuk asing sebesar 0,69 miliar dolar AS ke pasar obligasi pemerintah diimbangi oleh arus keluar sebesar 0,73 miliar dolar AS dari pasar saham.
Arus keluar portofolio asing bersih turut memberikan tekanan penurunan terhadap rupiah yang terdepresiasi sebesar 1,22 persen (month to month/mtm) dari Rp17.680 per dolar AS pada 15 September 2026 menjadi Rp17.895 per dolar AS pada 14 Oktober 2026. Sementara sejak awal tahun, nilai tukar rupiah melemah sebesar 8,30 persen (year to date/ytd).
Di sisi lain, Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz memperkirakan BI-Rate naik sebesar 25 basis poin (bps) menjadi ke level 6 persen, seiring ketidakpastian eksternal yang tinggi dan risiko arus keluar modal terkait proposal reklasifikasi MSCI.
"Perkembangan ini menjadi game changer meskipun keputusan final belum diambil, investor dapat mengurangi eksposur lebih awal sehingga tekanan terhadap rupiah perlu diantisipasi," kata Faiz.
Di tengah tingginya imbal hasil global dan kebutuhan pembiayaan defisit transaksi berjalan, menurutnya, daya tarik aset rupiah perlu diperkuat.
Karena itu, tim ekonom Bank Danamon melihat alasan semakin kuat bagi BI untuk bertindak preemptive. Pertimbangannya bukan hanya level rupiah, tetapi juga kecepatan pelemahan, persistensi arus keluar modal, dan risiko terhadap inflasi serta kepercayaan pasar.
"Hingga akhir 2026, kami memperkirakan BI-Rate berpotensi mencapai 6,25 persen, terutama jika tekanan eksternal berlanjut," kata dia.
Faiz menambahkan kenaikan bunga perlu disertai intervensi valas, penguatan insentif lindung nilai, dan imbal hasil instrumen moneter yang kompetitif.
Sedangkan, kebijakan makroprudensial dapat tetap mendukung pembiayaan sektor produktif agar stabilisasi rupiah berjalan dengan dampak yang terukur terhadap pertumbuhan.
Sementara itu, Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede juga memperkirakan kenaikan BI-Rate sebesar 25 bps, meskipun keputusan mempertahankan suku bunga sebesar 5,75 persen masih memiliki kemungkinan yang cukup besar.
"Secara probabilistik, kami melihat peluang kenaikan suku bunga sekitar 60 persen, sedangkan peluang mempertahankan suku bunga sekitar 40 persen. Penilaian ini sejalan dengan meningkatnya ekspektasi pengetatan moneter di pasar, meskipun konsensus ekonom masih terbelah," kata Josua.
Menurut tim ekonom PermataBank, perubahan ekspektasi tersebut terutama dipicu meningkatnya tekanan terhadap rupiah setelah pengumuman MSCI mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi pasar tersendiri.
Tekanan tersebut tidak hanya terlihat dari koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tetapi juga kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun menjadi sekitar 7,44 persen pada 20 Oktober, meningkat sekitar 137 basis poin sejak akhir 2025.
Sementara itu, nilai tukar rupiah masih berada di sekitar Rp17.987 per dolar AS, meskipun telah menunjukkan stabilisasi dari tekanan sebelumnya.
Dengan kondisi tersebut, menurutnya, kenaikan 25 basis poin merupakan respons yang relatif lebih proporsional dibandingkan kenaikan agresif sebesar 50 basis poin, karena dapat memperkuat kredibilitas kebijakan moneter dan daya tarik aset rupiah tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Namun, Josua juga mengingatkan bahwa BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin pada Mei-Juni 2026, sehingga dampak pengetatan sebelumnya tetap perlu menjadi pertimbangan sebelum mengambil langkah tambahan.