NADIKABAR.COM β Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi menilai penguatan industrialisasi menjadi salah satu strategi untuk mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Menurut dia, tekanan terhadap rupiah tidak cukup diatasi melalui intervensi Bank Indonesia (BI) karena persoalan utamanya bersifat struktural, salah satunya deindustrialisasi.
βJadi masalah (pelemahan) rupiah itu lebih struktural. Makanya turun terus dan meleset terus. Sehingga sektor mana yang paling bisa terdampak, itu sektor manufaktur lagi akhirnya,β kata Fithra dalam ANTARA Business Forum (ABF) 2026 di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) saat ini sekitar 18 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya persoalan deindustrialisasi yang membuat kemampuan industri dalam menghasilkan barang untuk pasar internasional menjadi terbatas.
Terbatasnya kemampuan industri untuk menghasilkan barang yang diperdagangkan ke luar negeri kemudian berdampak pada kinerja perdagangan dan transaksi berjalan (current account), yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap rupiah.
βKita tradable sectors-nya terbatas. Kita enggak bisa jual lebih banyak barang keluar. Yang bisa kita jual cuma komoditas. Nah, ini jadi masalah,β ujar Fithra.
Di sisi lain, ketergantungan industri terhadap bahan dan komponen dari luar negeri juga membuat pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi.
βKetika dia membutuhkan input dari luar, harganya jadi semakin mahal. Jadi, ini jadi kayak vicious circle. Jadi kayak satanic loop,β tambahnya.
Maka dari itu, Fithra menilai Indonesia perlu memperkuat industrialisasi dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap impor dengan memproduksi sendiri barang-barang yang selama ini masih dipasok dari luar negeri.
βHal-hal yang biasanya kita dapatkan dari luar dari sisi input, itu bisa kita produksi di sini. Nah, itu yang akan jadi roadmap,β ujarnya.
Ia mengatakan penguatan industri juga diperlukan guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan sekaligus memperluas lapangan kerja formal.
Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu bergerak menguat 66 poin atau 0,37 persen menjadi Rp17.818 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.884 per dolar AS.