NADIKABAR.COM β€” Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai orientasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) perlu bergeser dari sekadar mengejar volume penyaluran menuju peningkatan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya dalam meningkatkan omzet, laba, serta penciptaan lapangan kerja.

Kementerian UMKM mencatat penyaluran KUR hingga 6 Oktober 2026 telah mencapai Rp243,3 triliun dengan 1,6 juta debitur baru. Namun, di saat yang sama, pertumbuhan kredit UMKM secara keseluruhan pada Agustus 2026 hanya mencapai 2,38 persen, jauh tertinggal dibandingkan pertumbuhan total kredit perbankan yang menembus 13,65 persen.

Saat dihubungi di Jakarta, Selasa, Yusuf menekankan bahwa indikator keberhasilan KUR tidak bisa lagi hanya diukur dari angka penyaluran dan jumlah penerima semata. Evaluasi program harus mulai memperhitungkan pertumbuhan omzet dan laba, penambahan tenaga kerja, kelancaran angsuran, hingga kemampuan debitur untuk naik kelas ke pembiayaan komersial.

β€œTanpa ukuran tersebut, kenaikan penyaluran belum tentu mencerminkan peningkatan produktivitas usaha,” ujar Yusuf.