Ia juga memperkirakan neraca perdagangan Indonesia akan menghadapi tekanan yang semakin besar, sehingga berpotensi berkontribusi terhadap pelebaran CAD.

"Kami masih melihat adanya risiko penurunan kinerja neraca perdagangan Indonesia hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027. Risiko tersebut didorong oleh pertumbuhan impor yang tetap kuat serta kondisi ekspor yang penuh tantangan," kata Faisal.

Dari sisi kebijakan moneter, tim ekonom Permata Bank memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan BI-Rate sebanyak satu kali menjadi 6,00 persen sebelum akhir 2026 dan dipertahankan pada level tersebut sepanjang 2027.

"Namun, apabila ketidakpastian eksternal dan domestik meningkat secara signifikan, kami melihat adanya ruang bagi kenaikan suku bunga tambahan setidaknya sebesar 50 basis poin (bps) pada 2027," kata Faisal.

Berdasarkan estimasi awal tim ekonom Permata Bank, nilai tukar rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp18.200-Rp18.400 per dolar AS. Risiko pelemahan rupiah lebih lanjut diperkirakan masih akan berlanjut sepanjang 2027.

Di tengah ketidakpastian yang masih tinggi, tim ekonom Permata Bank mencatat bahwa kemungkinan rupiah menembus level Rp19.000 per dolar AS pada 2027 semakin meningkat.