NADIKABAR.COM — Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengingatkan pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dapat menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Ketidakpastian ini mencakup ketegangan geopolitik, sikap hawkish The Fed, serta potensi perubahan klasifikasi Indonesia oleh MSCI.
Berbagai risiko tersebut diperkirakan masih akan berlangsung setidaknya hingga semester I 2027.
"Faktor-faktor tersebut dapat semakin memperkuat sentimen risk-off dan memicu arus modal keluar (capital outflows) lebih lanjut," kata Faisal dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Adapun untuk tahun ini, tim ekonom Permata Bank memperkirakan CAD akan melebar menjadi 2,49 persen terhadap PDB pada 2026, dibandingkan 0,09 persen terhadap PDB pada 2025.
Pada 2027, CAD diproyeksikan tetap tinggi di kisaran 2,49 persen terhadap PDB.
Faisal mengingatkan pelebaran CAD yang disertai potensi perubahan arus investasi portofolio menjadi arus keluar bersih (net outflows) dalam neraca pembayaran Indonesia (NPI) dapat memberikan tekanan signifikan terhadap cadangan devisa.
Tim ekonom Permata Bank memperkirakan cadangan devisa akan turun menjadi 143-147 miliar dolar AS pada akhir 2026, dari 156,47 miliar dolar AS pada akhir 2025.
"Tren penurunan tersebut diperkirakan berlanjut pada 2027, dengan cadangan devisa diproyeksikan tetap berada di bawah tekanan pada kisaran 141-145 miliar dolar AS," kata dia.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS pada September 2026.
Secara kumulatif, surplus perdagangan mencapai 10,61 miliar dolar AS sepanjang Januari-September 2026. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan surplus 33,54 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perkembangan ini, catat Faisal, menegaskan adanya risiko pelebaran CAD pada tahun ini.
Ia juga memperkirakan neraca perdagangan Indonesia akan menghadapi tekanan yang semakin besar, sehingga berpotensi berkontribusi terhadap pelebaran CAD.
"Kami masih melihat adanya risiko penurunan kinerja neraca perdagangan Indonesia hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027. Risiko tersebut didorong oleh pertumbuhan impor yang tetap kuat serta kondisi ekspor yang penuh tantangan," kata Faisal.
Dari sisi kebijakan moneter, tim ekonom Permata Bank memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan BI-Rate sebanyak satu kali menjadi 6,00 persen sebelum akhir 2026 dan dipertahankan pada level tersebut sepanjang 2027.
"Namun, apabila ketidakpastian eksternal dan domestik meningkat secara signifikan, kami melihat adanya ruang bagi kenaikan suku bunga tambahan setidaknya sebesar 50 basis poin (bps) pada 2027," kata Faisal.
Berdasarkan estimasi awal tim ekonom Permata Bank, nilai tukar rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp18.200-Rp18.400 per dolar AS. Risiko pelemahan rupiah lebih lanjut diperkirakan masih akan berlanjut sepanjang 2027.
Di tengah ketidakpastian yang masih tinggi, tim ekonom Permata Bank mencatat bahwa kemungkinan rupiah menembus level Rp19.000 per dolar AS pada 2027 semakin meningkat.