Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah membuat BI menghadapi dilema dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps turut mempersempit selisih imbal hasil antara BI-Rate dan suku bunga AS.
Selain faktor suku bunga global, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kenaikan harga minyak yang telah kembali berada di sekitar 100 dolar AS per barel.
“Jadi ini ada dua hal yang memang sedikit bermasalah (suku bunga The Fed dan harga minyak). Ini memang menjadi dilema bagi BI untuk menaikkan suku bunga atau tidak,” kata dia.
Alih-alih menaikkan suku bunga, BI memilih menggunakan instrumen lain untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong aliran modal masuk, yakni melalui pemberian insentif biaya lindung nilai (hedging cost) pada instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
BI juga mengurangi penggunaan intervensi melalui transaksi spot dengan porsinya kini sekitar 30 persen dari total intervensi.
Dipo menjelaskan, intervensi spot memang dapat memberikan dampak lebih langsung terhadap nilai tukar karena BI bertransaksi langsung di pasar. Namun, instrumen tersebut memiliki biaya yang lebih besar bagi bank sentral.