Tekanan Biaya Hidup dan Tingginya Utang Warga Brasil Para ahli mengatakan bahwa perbedaan mengenai rendahnya biaya hidup warga dengan angka-angka perhitungan ekonomi makro mencerminkan kesenjangan antara indikator di sektor ketenagakerjaan dan inflasi yang membaik dengan kenyataan yang dialami banyak rumah tangga sehari-hari.
"Semua angka statistik utama menunjukkan bahwa pemerintahan ini telah bekerja dengan baik. Namun kenyataannya, masyarakat umum justru tidak sependapat dengan hal itu," ujar Thomas Traumann, seorang analis politik dan penulis.
Traumann membandingkan situasi yang dialami Brasil kini dengan kesulitan yang dihadapi Presiden AS Joe Biden menjelang pemilu tahun 2024 dalam menjembatani kesenjangan persepsi data makroekonomi yang positif namun sentimen konsumen yang negatif. Sebuah fenomena yang oleh komentator ekonomi Kyla Scanlon sebagai "vibecession" (resesi yang dirasakan berdasarkan suasana hati/sentimen, bukan sekadar data teknis).
"Pemerintah memiliki berbagai pencapaian yang bisa ditunjukkan, namun para pemilih mempertanyakan seberapa besar manfaat dari pencapaian tersebut yang benar-benar dirasakan oleh rumah tangga mereka," kata Felipe Nunes, pendiri sekaligus CEO lembaga survei Quaest.
"Pemilih menilai kondisi ekonomi berdasarkan kemampuan mereka untuk membayar tagihan, mengonsumsi barang dan jasa, serta mencapai tujuan pribadi mereka," sambungnya.
Saat ini mahalnya harga pangan dan beban utang yang meningkat turut menjelaskan mengapa banyak keluarga tidak merasakan banyak perbaikan dalam daya beli mereka pascapandemi.