Meskipun inflasi harga pangan mulai melambat secara tajam, bahkan harga produk sempat turun pada periode Juni- Agustus ini, kenaikan harga tinggi selama beberapa tahun terakhir terus membebani anggaran rumah tangga, dengan tingkat harga yang masih jauh di atas angka sebelum pandemi.
Pada saat yang sama, menurut data bank sentral Brasil, beban pembayaran utang rumah tangga (di luar kredit perumahan) kini sudah mencapai rekor tertinggi sebesar 26,6% dari pendapatan pada bulan Juni. Hal ini dipicu oleh perusahaan fintech alias pinjaman online (pinjol) yang berkembang pesat dengan menawarkan kredit mudah berbunga tinggi.
Masih belum cukup, maraknya judi online (judol) turut menyedot pendapatan rumah tangga hingga miliaran real Brasil. Kondisi ini semakin menjerumuskan banyak keluarga ke dalam kesulitan keuangan.
Beban tersebut semakin diperparah oleh suku bunga acuan Brasil yang sebesar 13,75%, salah satu suku bunga riil tertinggi di dunia, yang kini mulai diturunkan secara bertahap oleh bank sentral sembari tetap memantau ketat laju inflasi.
"Jika kita mencermati data pasar tenaga kerja, indikator kemiskinan, dan perluasan kelas menengah, terlihat adanya kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir," ujar Marcelo Neri, seorang ekonom di Fundacao Getulio Vargas.
"Namun, jika kita turut memperhitungkan akumulasi inflasi harga pangan, suku bunga, dan taruhan daring, hasilnya bisa dibilang seperti pertandingan seri yang diwarnai banyak gol dari kedua belah pihak," jelasnya lagi.