NADIKABAR.COM — Di tengah klaim pemerintah yang mengatakan sejumlah indikator ekonomi mulai membaik, jutaan warga Brasil masih terhimpit oleh mahalnya harga kebutuhan sehari-hari. Tingginya biaya hidup hingga utang warga yang terus melambung tinggi membuat membuat perekonomian kelas pekerja semakin lesu.
Kondisi ini seperti yang dirasakan seorang pekerja di toko daging dekat kawasan pusat bersejarah Sao Paulo, Kleyton Zacarioto. Ia mengatakan bahwa jumlah pelanggan terus menurun selama beberapa tahun terakhir imbas kenaikan harga pangan yang berkepanjangan.
"Seseorang dengan penghasilan upah minimum tidak memiliki peluang untuk memperbaiki nasib," ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Senin (28/9/2026).
Masalahnya, kondisi ini tak hanya dirasakan oleh Zacarioto seorang, namun sebagian besar warga Brasil. Hal ini terlihat dari hasil jajak pendapat lembaga Quaest yang dirilis bulan September, di mana hampir 50% warga negara itu menilai kondisi ekonomi justru memburuk dalam setahun terakhir.
Angka ini berbanding jauh jika dibandingkan dengan mereka yang menyatakan bahwa ekonomi Brasil sudah membaik, yakni hanya 19% saja. Menunjukkan bagaimana indikator makro ekonomi belum dirasakan kalangan masyarakat pada umumnya.
Kondisi ini lantas mendorong banyak warga, termasuk Zacarioto, enggan untuk mempertahankan Luiz Inacio Lula da Silva dalam posisinya sebagai Presiden Brasil dalam putaran pemilihan umum (pemilu) yang akan datang.
Bahkan Zacarioto dengan tegas mengatakan Lula merupakan satu-satunya kandidat Presiden yang sudah pasti tidak akan dipilihnya, meski ia mengakui sang presiden sempat memiliki kinerja baik ketika pertama kali menjabat pada 2000-an.
Tekanan Biaya Hidup dan Tingginya Utang Warga Brasil Para ahli mengatakan bahwa perbedaan mengenai rendahnya biaya hidup warga dengan angka-angka perhitungan ekonomi makro mencerminkan kesenjangan antara indikator di sektor ketenagakerjaan dan inflasi yang membaik dengan kenyataan yang dialami banyak rumah tangga sehari-hari.
"Semua angka statistik utama menunjukkan bahwa pemerintahan ini telah bekerja dengan baik. Namun kenyataannya, masyarakat umum justru tidak sependapat dengan hal itu," ujar Thomas Traumann, seorang analis politik dan penulis.
Traumann membandingkan situasi yang dialami Brasil kini dengan kesulitan yang dihadapi Presiden AS Joe Biden menjelang pemilu tahun 2024 dalam menjembatani kesenjangan persepsi data makroekonomi yang positif namun sentimen konsumen yang negatif. Sebuah fenomena yang oleh komentator ekonomi Kyla Scanlon sebagai "vibecession" (resesi yang dirasakan berdasarkan suasana hati/sentimen, bukan sekadar data teknis).
"Pemerintah memiliki berbagai pencapaian yang bisa ditunjukkan, namun para pemilih mempertanyakan seberapa besar manfaat dari pencapaian tersebut yang benar-benar dirasakan oleh rumah tangga mereka," kata Felipe Nunes, pendiri sekaligus CEO lembaga survei Quaest.
"Pemilih menilai kondisi ekonomi berdasarkan kemampuan mereka untuk membayar tagihan, mengonsumsi barang dan jasa, serta mencapai tujuan pribadi mereka," sambungnya.
Saat ini mahalnya harga pangan dan beban utang yang meningkat turut menjelaskan mengapa banyak keluarga tidak merasakan banyak perbaikan dalam daya beli mereka pascapandemi.
Meskipun inflasi harga pangan mulai melambat secara tajam, bahkan harga produk sempat turun pada periode Juni- Agustus ini, kenaikan harga tinggi selama beberapa tahun terakhir terus membebani anggaran rumah tangga, dengan tingkat harga yang masih jauh di atas angka sebelum pandemi.
Pada saat yang sama, menurut data bank sentral Brasil, beban pembayaran utang rumah tangga (di luar kredit perumahan) kini sudah mencapai rekor tertinggi sebesar 26,6% dari pendapatan pada bulan Juni. Hal ini dipicu oleh perusahaan fintech alias pinjaman online (pinjol) yang berkembang pesat dengan menawarkan kredit mudah berbunga tinggi.
Masih belum cukup, maraknya judi online (judol) turut menyedot pendapatan rumah tangga hingga miliaran real Brasil. Kondisi ini semakin menjerumuskan banyak keluarga ke dalam kesulitan keuangan.
Beban tersebut semakin diperparah oleh suku bunga acuan Brasil yang sebesar 13,75%, salah satu suku bunga riil tertinggi di dunia, yang kini mulai diturunkan secara bertahap oleh bank sentral sembari tetap memantau ketat laju inflasi.
"Jika kita mencermati data pasar tenaga kerja, indikator kemiskinan, dan perluasan kelas menengah, terlihat adanya kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir," ujar Marcelo Neri, seorang ekonom di Fundacao Getulio Vargas.
"Namun, jika kita turut memperhitungkan akumulasi inflasi harga pangan, suku bunga, dan taruhan daring, hasilnya bisa dibilang seperti pertandingan seri yang diwarnai banyak gol dari kedua belah pihak," jelasnya lagi.