Lutfi menduga tekanan terhadap pasar modal Indonesia berkaitan dengan kepentingan investor asing yang ingin kembali membeli saham dengan harga lebih rendah.

Ia mengklaim dana institusi asing telah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia. Namun, keluarnya dana tersebut disebut tidak membuat harga saham jatuh sesuai harapan investor asing.

"Dana-dana institusi asing ini sudah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia. Masalahnya, waktu mereka keluar, bursa kita tidak hancur. Karena harganya tidak turun, mereka tidak bisa masuk lagi buat beli murah," katanya.

Menurut Lutfi, kondisi itu membuat pihak-pihak yang ditudingnya berkepentingan menciptakan tekanan baru melalui MSCI. Penurunan klasifikasi pasar modal dapat memicu kepanikan investor hingga menyebabkan harga saham RI merosot.

Dengan begitu, menurut dia, investor asing memiliki kesempatan untuk kembali membeli saham perusahaan-perusahaan Indonesia dengan harga lebih murah.

"Mereka tekan MSCI untuk mengancam turunkan kasta Indonesia ke standalone market. Bikin kepanikan massal supaya indeks saham kita rontok. Lalu mereka borong kembali aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon," ujarnya.

Lutfi juga mempertanyakan dasar penurunan status Indonesia menjadi standalone market. Ia mengaitkan kategori tersebut dengan negara yang menerapkan pembatasan arus modal atau capital control, termasuk pembatasan transaksi valuta asing dan penerapan nilai tukar yang dikendalikan pemerintah.

Menurutnya, Indonesia tidak menerapkan kebijakan semacam itu sehingga tidak layak dimasukkan ke kategori tersebut.