Ia menilai kondisi tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi rivalitas dan konflik global tanpa harus menjadikan salah satu kekuatan besar sebagai lawan.
"I don't fear bahwa sekarang ini ada dunia yang sedang penuh rivalitas dan konflik. I don't fear it. Kenapa? Karena enggak ada yang konflik itu yang mengarah untuk menjadikan Indonesia sebagai target. Jadi kita berada di posisi yang unik, bukan target," tuturnya.
Dino mengatakan pendekatan Indonesia terhadap negara-negara besar juga perlu berkembang. Jika sebelumnya dikenal konsep equidistance, yakni menjaga jarak yang relatif sama dari kekuatan-kekuatan besar, ia menilai Indonesia kini justru perlu membangun hubungan sedekat mungkin dengan berbagai negara.
Menurutnya, kedekatan tersebut dapat membuka akses terhadap pasar, teknologi, pendidikan, dan kerja sama diplomatik yang dibutuhkan Indonesia.
Dino mengakui upaya mendekatkan diri kepada berbagai negara memiliki tantangan tersendiri, terutama ketika suatu negara memberikan tekanan atau meminta Indonesia mengambil kebijakan yang menguntungkan kepentingannya.
Ia mencontohkan tekanan AS melalui kebijakan tarif dan kepentingannya terhadap mineral kritis Indonesia.