Sejak mulai beroperasi pada 1 Juni 2026, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI telah membangun visibilitas analitis atas sekitar 6.500 deklarasi ekspor dengan nilai lebih dari US$ 14 miliar dan volume melampaui 90 juta ton komoditas.

Transaksi tersebut bergerak melalui lebih dari 50 pelabuhan muat di 25 provinsi menuju lebih dari 100 negara tujuan.

Data ekspor nasional tersebut kemudian diintegrasikan dengan referensi pasar global. Informasi yang dipantau mencakup harga, volume, kualitas, klasifikasi Harmonized System (HS), kapal pengangkut, dan pasar tujuan.

Integrasi tersebut memberikan gambaran mengenai alur perdagangan dan nilai komoditas sepanjang rantai ekspor.

Dari analisis awal bersama sejumlah badan usaha milik negara, ditemukan potensi optimalisasi nilai sekitar US$ 5 miliar per tahun.

Eddy menilai integrasi data tersebut dapat menjadi dasar untuk memahami struktur perdagangan dan menyusun strategi ekspor yang lebih tepat. Namun, menurutnya, visibilitas data saja belum cukup untuk meningkatkan kinerja ekspor.

"Visibilitas semata belum tentu dapat menggenjot ekspor. Yang diperlukan juga adalah strategi mengelola sumber daya, meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, memperluas perjanjian perdagangan bebas, memetakan negara tujuan ekspor, dan mengimplementasikan strategi global," katanya.