Sementara di Jepara, pengembangan dimulai pada September 2025 dengan penanaman 400 kilogram benih pada lahan awal seluas 5 hektare. Luasan kemudian diperluas menjadi sekitar 20 hektare dan telah mencapai panen pada lahan sekitar 22 hektare dengan produktivitas 6-8 ton per hektare.
Model tersebut juga mulai direplikasi di wilayah lain. Bibit Padi Biosalin 1 yang dikembangkan di Semarang telah diperluas ke Kabupaten Kendal dengan luasan sekitar 353 hektare.
Langkah mitigasi terhadap tantangan perubahan iklim juga dilakukan PGN melalui penguatan ketahanan pangan pesisir dengan upaya menjaga ekosistem. Sejak 2024, PGN grup turut mendukung penanaman sekitar 14 ribu mangrove di wilayah Batang, Kendal, dan Semarang untuk mendukung keberlanjutan lingkungan pesisir.
Fajriyah mengatakan pengalaman dari pengembangan di berbagai wilayah menunjukkan pentingnya menyesuaikan model budidaya dengan karakteristik lahan dan kebutuhan masyarakat. Karena itu, PGN bersama BRIN terus mendorong replikasi inovasi tersebut ke wilayah pesisir lainnya.
Melalui pengembangan tersebut, PGN berharap Padi Biosalin dapat menjadi salah satu model pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan produktivitas lahan pesisir sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
"Dari lahan yang menghadapi keterbatasan, kita tumbuhkan produktivitas. Dari inovasi, kita hadirkan solusi. Dan melalui kolaborasi, kita ciptakan keberlanjutan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat," tutup Fajriyah.