NADIKABAR.COM — Elon Musk dituding memerintahkan perlambatan versi Starlink milik SpaceX yang diandalkan Ukraina dalam perangnya melawan Rusia, lapor Wall Street Journal yang mengutip para pejabat AS dan orang-orang yang mengetahui masalah tersebut. Padahal orang terkaya dunia itu sudah membanyahnya.
Menurut WSJ, Musk yang adalah pendiri dan CEO SpaceX, pekan lalu membatasi kecepatan perangkat keras Ukraina untuk dapat terus terhubung ke jaringan berbasis satelit tersebut. Keputusan ini membuat beberapa drone Ukraina nyaris tidak dapat dioperasikan.
Elon Musk dan Presiden Donald Trump, yang keduanya baru-baru ini mengkritik Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, dilaporkan membahas langkah untuk memperlambat Starlink.
Salah satu narasumber yang berbicara dengan WSJ mengklaim Musk telah membahas masalah ini dengan beberapa pejabat senior pemerintahan Trump, termasuk sang presiden sendiri, sebelum memberlakukan batas kecepatan Starlink.
Trump sendiri sudah mengatakan bahwa ia tidak tahu siapa yang memerintahkan pemutusan Starlink tersebut. "Tapi saya ingin mencari tahu," sebutnya, dikutip NadiKabar dari CNBC.
Rabu lalu, Musk menulis di X bahwa sistem Starshield, versi Starlink untuk kebutuhan militer, dimiliki dan dikendalikan oleh pemerintah AS dan bahwa batasan kecepatan atau penggunaan apa pun diputuskan oleh militer AS dan pada akhirnya oleh POTUS (Presiden AS).
Sejak invasi Rusia di 2022, Ukraina menggunakan internet Starlink. Dengannya, militer dapat terus berkomunikasi dan bertukar data, bahkan ketika infrastruktur atau jaringan telepon seluler lumpuh.
Sekitar 50.000 terminal Starlink digunakan di Ukraina tahun 2025. Terminal ini merupakan perangkat penerima dan pemancar khusus dari sistem tersebut, memungkinkan komunikasi di medan perang. Terminal-terminal ini juga dipakai untuk menyampaikan perintah dan menerima rekaman drone.