Namun, ia menekankan reaksi pasar terhadap harga ketika mendekati support akan menjadi penentu arah selanjutnya. Di mana kemampuan support menahan tekanan jual dapat membuka peluang terjadinya rebound, sementara penembusan yang kuat berpotensi memperbesar ruang pelemahan berikutnya.
"Selain level support, area resistance US$ 4.409 per troy ons menjadi batas penting bagi skenario bearish tersebut," jelasnya.
Menurut Geraldo, selama harga emas belum mampu mencatatkan penutupan di atas US$ 4.409 per troy ons atau Rp 2.497.398 per gram, tren bearish atau pelemahan masih berpotensi menjadi arah dominan.
"Karena itu, pergerakan XAUUSD di tim redaksi area support dan resistance tersebut akan menjadi perhatian utama pelaku pasar," tegas Geraldo.
Dari sisi fundamental, harga emas pekan depan akan menghadapi dua katalis yang bergerak berlawanan yakni krisis geopolitik di Timur Tengah yang masih berpotensi menopang permintaan emas sebagai aset safe haven; dan meningkatnya ketidakpastian global yang biasanya akan mendorong para investor untuk mencari aset lebih aman, sehingga perkembangan konflik dapat memberikan dukungan terhadap harga emas.