"Namun, eskalasi geopolitik juga membawa dampak lain melalui pasar energi. Lonjakan harga minyak hingga menembus US$ 100 per barel meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Kenaikan harga energi dapat mendorong biaya produksi dan transportasi, sehingga berpotensi membuat inflasi bertahan pada level tinggi," ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve. Jika tekanan inflasi semakin kuat, peluang suku bunga The Fed bertahan tinggi dalam waktu lebih lama dapat meningkat. Ekspektasi tersebut berpotensi memberikan dukungan terhadap dolar AS dan imbal hasil Treasury Amerika Serikat, yang pada akhirnya dapat membatasi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Di luar itu, data Producer Price Index atau PPI Amerika Serikat juga menjadi salah satu perhatian pasar. Kenaikan PPI sebesar 0,4% secara bulanan menunjukkan adanya tekanan pada tingkat harga produsen yang dapat menjadi pertimbangan dalam membaca arah inflasi ke depan. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter dan pergerakan yield maupun dolar AS.

"Dengan demikian, perkembangan konflik Timur Tengah, harga minyak, data inflasi Amerika Serikat, dolar AS, dan Treasury yield akan menjadi sejumlah faktor utama yang menentukan pergerakan XAUUSD pada pekan depan. Perubahan pada salah satu faktor tersebut dapat memicu peningkatan volatilitas harga emas," pungkas Geraldo.