Gempa bumi berkaitan dengan aktivitas tektonik. Sementara tsunami dapat terjadi akibat gangguan besar di laut, salah satunya gempa bumi bawah laut. Adapun letusan gunung api berkaitan dengan aktivitas vulkanik, sedangkan gerakan tanah dapat terjadi terutama di kawasan dengan kondisi lereng yang rentan.
Badan Geologi juga mencantumkan sejumlah kejadian besar sebagai gambaran dampaknya, yakni tsunami Aceh 2004, gempa Nias 2005, gempa Lombok 2018, serta gempa dan tsunami Palu 2018. Selain empat bahaya utama tersebut, terdapat pula bahaya geologi lain seperti erosi, penurunan tanah, sedimentasi, serta semburan lumpur atau gas.
Badan Geologi menekankan pentingnya kewaspadaan dan mitigasi karena gempa serta tsunami dapat terjadi dengan cepat dan memiliki tanda awal yang terbatas.
"Gempa dan tsunami termasuk bahaya yang paling mematikan. Terjadi cepat, tanda awal terbatas," Badan Geologi memperingatkan.
Karena itu, pembangunan dan pemanfaatan wilayah perlu mempertimbangkan kondisi geologi setempat. Badan Geologi menyebut kewaspadaan dan mitigasi yang kuat dapat membantu mengurangi risiko.
Dalam kajian resminya, Badan Geologi juga menegaskan bahwa Indonesia merupakan wilayah dengan sumber gempa yang terbentuk akibat interaksi empat lempeng. Zona penunjaman membentang antara lain dari barat Sumatera, selatan Jawa hingga Nusa Tenggara, serta sejumlah wilayah Indonesia bagian timur.
Badan Geologi sebelumnya juga menegaskan bahwa bencana geologi belum dapat diramalkan secara pasti terkait waktu, lokasi, dan besar kekuatannya, sehingga peningkatan mitigasi menjadi langkah penting untuk mengurangi risikonya.