NADIKABAR.COM — Jumat pagi, 16 Oktober, layar aplikasi saham di ponsel para investor ritel "kebakaran" sesaat setelah pembukaan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terkoreksi 8,01 persen, dan Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan trading halt (penghentian sementara perdagangan.

Ketika perdagangan ditutup pada petang hari, indeks berhenti di level 5.185,10, turun 11,57 persen dalam sehari. Penurunan harian sedalam itu terakhir pada pada krisis 1998.

Pemicunya datang dari New York beberapa jam sebelumnya. MSCI, penyusun indeks yang dijadikan acuan oleh dana investasi global, membuka konsultasi untuk memindahkan Indonesia dari kelompok pasar berkembang (emerging market) ke status standalone market, kategori di luar keluarga indeks utama.

Klasifikasi standalone market akan menyejajarkan pasar modal Indonesia layaknya pasar keuangan Jamaika, Panama, dan Palestina.

Alasan yang disebut MSCI tidak menyangkut pertumbuhan ekonomi ataupun laba emiten. Pelaku pasar global, menurut MSCI, mempersoalkan struktur kepemilikan saham yang tetap buram dan dugaan perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga.

Bagi siapa saja pelaku pasar yang aktif di bursa, dua persoalan itu tidak akan terdengar asing. Hampir setiap pelaku pasar aktif pernah menyaksikan saham berkapitalisasi jumbo melonjak berlipat dalam waktu singkat, sementara porsi saham yang benar-benar beredar di tangan publik tipis.