NADIKABAR.COM — Apa yang awalnya cuma meletus di Prancis kini menyebar ke seantero Eropa. Apa yang dulunya hanya protes murid SMA terhadap kondisi sekolah, kini berubah menjadi kritik terhadap kerja demokrasi.

Itulah yang terjadi di Eropa saat ini, khususnya Prancis, Spanyol, Italia, Portugal, Albania, dan Serbia.

Awalnya dari keluhan para siswa SMA di Prancis terhadap infrastruktur sekolah yang rusak, ruang kelas yang sudah sesak, jadwal yang terlalu padat, kurangnya guru dan dana untuk sekolah.

Para pelajar juga menuntut pemerintah merombak sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus negeri karena dianggap tidak adil.

Ada yang berpandangan, akibat tindakan polisi Prancis terlalu keras kepada demonstran, maka solidaritas muncul dari banyak pihak, termasuk serikat pekerja, petani dan kelompok kepentingan politik. Isu pun meluas ke isu-isu sensitif seperti kenaikan harga dan kesulitan ekonomi.

Unjuk rasa pun memuncak menjadi gerakan massa yang puncaknya terjadi Sabtu pekan lalu, 17 Oktober 2026, ketika hampir satu juta manusia menggelar unjuk rasa di seantero Prancis, sampai diwarnai penjarahan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron lalu menyeru rakyatnya tenang. Saat bersamaan, pemerintahannya menuding kaum kiri ekstrem dan kelompok kriminal telah memicu penjarahan di Paris, Bordeaux, Rennes, Nantes, Lyon, Lille, sampai Marseille.

Gelombang unjuk rasa ini sendiri memperparah krisis fiskal dan sosial di Prancis, yang adalah perekonomian terbesar kedua di Uni Eropa setelah Jerman.

Pemerintah Macron sendiri di ambang mensahkan kebijakan efisiensi anggaran, yang dinilai makin memberatkan beban rakyat Prancis yang sudah dihantam kenaikan harga-harga, khususnya harga bahan bakar.

Masyarakat juga marah oleh layanan publik yang buruk dan anggaran rumah tangga yang kian ditekan. Di sisi lain, mereka menganggap kelembagaan politik Prancis hampir tak menawarkan harapan untuk adanya perubahan.

Situasi hampir mirip Prancis dirasakan pula oleh rakyat beberapa negara Eropa lain, termasuk Spanyol.

Unjuk rasa di Spanyol sendiri dipicu oleh penggusuran seorang pensiunan berusia 87 tahun dari rumahnya di Madrid yang sudah dia tinggali selama 70 tahun.

Sang nenek diusir karena tak mampu membayar sewa apartemen yang dinaikkan 230 persen oleh pemiliknya. Dua pekan setelah terusir dari rumahnya, nenek itu meninggal dunia.