NADIKABAR.COM — Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa seni merupakan potensi besar yang harus dilestarikan melalui proses institusionalisasi dan pendidikan formal perguruan tinggi. Melalui institusi pendidikan tinggi, transmisi nilai-nilai tradisi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka perhelatan Festival Kesenian Indonesia (FKI) XIII di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang (20/10). Fadli dalam sambutannya menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa (mega diversity).
Kebudayaan bukan hanya seni untuk dipertunjukkan, namun juga unsur esensial yang senantiasa dilestarikan. Sebagai contoh, Fadli menyebutkan Sumatra Barat sebagai lokasi berdirinya ISI Padang Panjang yang dipercaya menjadi tuan rumah FKI XIII memiliki ekspresi budaya lokal yang mengakar kuat di tengah masyarakat.
"Di Sumatera Barat ini juga kaya dengan tradisi lisan, misalnya tambo dan petatah petitih. Semua itu adalah bagian dari tradisi lisan, di mana ada manuskrip, ritus, adat istiadat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, dan olahraga tradisional di dalamnya," ujar Fadli dalam keterangan tertulis, Rabu (21/10/2026).
Fadli menekankan kebudayaan merupakan sumber kekuatan pembangunan nasional karena tidak hanya berfungsi sebagai sumber identitas bangsa (source of identity) dan kekuatan pemersatu (binding power), melainkan juga bentuk investasi berharga. Dengan pemanfaatan jangka panjang, Fadli optimis budaya dapat menjadi salah satu sumber ekonomi Indonesia.
"Kita ingin menjadikan seni ini bukan sekadar identitas, tapi harus juga menjadi satu investasi. Budaya kita harapkan juga menjadi new engine of economic growth atau ekonomi budaya sirkular yang berkesinambungan. Sehingga ekonomi kita tidak selalu harus berbasis pada ekonomi ekstraktif, tetapi budaya akan menjadi kekuatan ekonomi yang besar sekaligus alat diplomasi lunak (soft power)," ungkap Fadli.
Fadli turut menyebutkan pentingnya proses institusionalisasi warisan dan ekspresi budaya melalui keterlibatan aktif perguruan tinggi seni. Menurutnya, pemajuan ekosistem budaya memerlukan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi seni, hingga pihak swasta dan komunitas.
"Institut Seni Indonesia atau ISI yang ada di ujung barat hingga timur Indonesia menjadi institusi-institusi yang sangat penting. Ke depannya, kita juga harus menghadirkan lebih banyak perguruan tinggi seni di bagian daerah Indonesia. Apabila tidak ada institusionalisasi di dalam warisan budaya dan ekspresi budaya kita, tentu akan ada ketinggalan di dalam proses regenerasi ke depan," tuturnya.
Fadli berharap FKI XIII ini terus berlanjut. Ia optimis perhelatan ini mampu melahirkan seniman-seniman muda yang mumpuni di bidangnya hingga membawa nama Indonesia ke peradaban dunia.
"Mudah-mudahan, FKI XIII terus berkelanjutan dan bisa melahirkan seniman yang mumpuni dari mahasiswa, yang kemudian akan menjadi empu atau maestro yang membawa nama Indonesia ke peradaban dunia," ujar Fadli.
Sementara itu, Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang Febri Yulika juga menegaskan bahwa seni rupa dan perguruan tinggi memiliki peran strategis di tengah perubahan zaman dan krisis lingkungan.
"Seni tidak hanya melahirkan karya yang indah, tetapi juga karya yang menggerakkan kepedulian dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat," pungkas Febri.
Festival Kesenian Indonesia (FKI) XIII merupakan perhelatan seni rupa berskala nasional yang diselenggarakan oleh konsorsium Perguruan Tinggi Seni se-Indonesia (BKS-PTSI). Mengusung tema 'Art, Folklore and Ecology' (Seni, Folklor dan Ekologi), perhelatan ini menghadirkan karya terbaik seniman akademisi, pengajar, hingga mahasiswa seni yang memadukan kearifan lokal dan modernitas.
Selain menjadi ruang perjumpaan kreatif, FKI XIII turut menegaskan peran strategis institusi pendidikan tinggi seni dalam merawat, merespons, dan menggerakkan ekosistem kebudayaan bangsa.
Turut hadir dalam Festival Kesenian XIII, yaitu Walikota Padang Panjang, Hendri Anis; Wakil Walikota Padang Panjang, Alex Saputra; Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis; jajaran rektor Perguruan Tinggi Seni se-Indonesia (BKS-PTSI); pimpinan daerah, seniman dan komunitas seni, serta mahasiswa peserta FKI XIII.
Hadir mendampingi Menteri Kebudayaan, yakni Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra; serta Kepala BP Kebudayaan Sumatera Barat, Nurmatias.