Kondisi tersebut memang dapat membuat cuaca terasa terik. Namun, equinox tidak otomatis menyebabkan suhu udara di Indonesia melonjak ekstrem.

BMKG menjelaskan equinox merupakan fenomena astronomi yang berlangsung secara alamiah dan bukan fenomena gelombang panas atau heat wave. Suhu maksimum di Indonesia pada periode ini umumnya masih berada pada kisaran 32-36 derajat Celsius.

"Equinox bukan merupakan fenomena seperti gelombang panas atau heat wave yang terjadi di Eropa, Afrika dan Amerika yang merupakan kejadian peningkatan suhu udara ekstrim di luar kebiasaan dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama," ujar Mulyono Rahadi Prabowo, Deputi Bidang Meteorologi BMKG.

Artinya, cuaca panas yang dirasakan masyarakat tidak bisa dikaitkan dengan equinox saja. Suhu udara juga dipengaruhi kondisi atmosfer, tutupan awan, kelembapan, musim, serta fenomena iklim lainnya.

Kondisi Indonesia saat ini bahkan turut dipengaruhi El Niño sangat kuat. Analisis BMKG pada awal September 2026 menunjukkan indeks ENSO tiga bulanan mencapai 2,6. Sebanyak 80,7% zona musim di Indonesia juga masih mengalami musim kemarau.

Cuaca kering, minimnya pertumbuhan awan, dan berkurangnya hujan dapat membuat paparan sinar Matahari terasa lebih intens di sejumlah daerah.