Selain pasar Eropa, Gapki juga melihat India sebagai pasar strategis bagi sawit Indonesia. Indonesia memasok hampir separuh kebutuhan sawit India. Pada triwulan I 2026, ekspor sawit Indonesia ke India mencapai 988 ribu ton, meningkat 28 persen secara tahunan.

Gapki menyambut baik keputusan India menurunkan bea masuk dasar CPO dari 10 persen menjadi 5 persen mulai 24 September 2026. GAPKI memperkirakan India masih membutuhkan impor sawit sekitar 7–8 juta ton per tahun hingga 2030.

Gapki juga membuka peluang kerja sama peningkatan produktivitas sawit dengan India, melanjutkan nota kesepahaman dengan Solvent Extractors’ Association of India (SEA) dan Asian Palm Oil Alliance (APOA) yang ditandatangani pada GlobOil 2025, serta perjanjian baru dengan Indian Vegetable Oil Producers’ Association (IVPA).

Partisipasi Gapki dalam GlobOil India 2026 juga menjadi bagian dari upaya mempromosikan minyak sawit Indonesia yang berkelanjutan di pasar India.

Kegiatan tersebut didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang melalui berbagai program mendukung kebijakan pemerintah dalam mewujudkan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan.