Mengapa pergadaian begitu diminati? Jawabannya terletak pada skema penjaminan berbasis aset (collateral-based lending).
Saat perbankan formal semakin selektif menyalurkan kredit akibat kekhawatiran risiko, sementara pinjaman online (pinjol) menghadapi persoalan persepsi terkait bunga yang tinggi, gadai hadir sebagai alternatif pendanaan yang cepat dengan aset sebagai jaminan.
Namun, narasi industri gadai hari ini telah bergeser jauh dari stigma lama sebagai "tempat orang terdesak".
Jika di loket-loket jalanan masyarakat menggadaikan emas 2 gram atau sepeda motor, di belahan kota yang lain, di balik pintu-pintu suite hotel bintang lima dan ruang rapat privat korporasi, transaksi serupa terjadi dalam skala yang berbeda.
Fenomena gadai kini merambah segmen kelas atas (high-net-worth individuals/HNWI) dan para pemilik bisnis dengan aset besar. Mereka menggadaikan barang-barang koleksi bernilai tinggi, seperti jam tangan edisi terbatas Patek Philippe, Audemars Piguet, dan Rolex, tas desainer seperti Hermès Birkin, perhiasan berlian, hingga logam mulia batangan dalam jumlah besar.
Perbedaannya mendasar. Jika masyarakat segmen bawah membutuhkan dana untuk bertahan hidup (subsistence), kalangan atas memanfaatkannya sebagai instrumen rekayasa finansial (financial engineering) dan manajemen arus kas taktis.
Salah satu pemain yang menyasar segmen pergadaian swasta premium berizin OJK di Indonesia adalah PT Lesca Gadai Premier. Mengincar segmen niche yang spesifik, Lesca Gadai Premier menawarkan pendanaan kepada pebisnis yang membutuhkan suntikan modal kerja hingga miliaran rupiah tanpa harus menjual aset produktif mereka.
Memasuki paruh kedua 2026, kenaikan harga emas dunia yang menyentuh rekor tertinggi di tengah ketidakpastian geopolitik global justru membuka peluang bagi para pebisnis.
Kenaikan harga instrumen safe haven ini dimanfaatkan Lesca Gadai Premier untuk menawarkan program optimalisasi portofolio tengah tahun.
Direktur Lesca Gadai Premier, Bastian Purnama, menjelaskan bahwa dalam manajemen kekayaan modern, menjual aset fisik premium yang nilainya sedang menguat ketika membutuhkan likuiditas bukan selalu menjadi pilihan yang taktis.
"Kenaikan harga emas perhiasan dan logam mulia di pasar global saat ini adalah kesempatan emas bagi para kolektor dan pengusaha. Melalui skema pendanaan berbasis aset (asset-backed lending) yang kami tawarkan, mereka dapat memanfaatkan nilai laten dari koleksi premium tersebut secara maksimal. Mereka bisa mendapatkan pencairan dana hingga miliaran rupiah berdasarkan taksiran harga pasar terkini yang sedang tinggi, namun aset fisik mereka tetap utuh di bawah kepemilikan mereka," ungkap Bastian.