NADIKABAR.COM — Aksi demonstrasi melanda sejumlah negara di Eropa. Mulai dari kenaikan harga pangan, upah rendah, biaya perumahan yang tidak terjangkau, hingga daya beli yang stagnan dan layanan publik yang terbebani menjadi penyebab utama ratusan ribu warga ramai-ramai turun ke jalan melakukan aksi protes.
Melansir Euronews, Senin (19/10/2026), Di Prancis, ratusan ribu warga termasuk para pelajar dan kelompok lainnya turun ke jalan untuk memprotes biaya hidup dan kondisi layanan publik yang dinilai kian memburuk. Banyak yang melakukan aksi secara damai, namun kericuhan terjadi di sejumlah wilayah.
Kondisi ini seperti yang terjadi di sekitar alun-alun kota Paris, Place de la Republique. Kerusuhan juga terjadi di area Balai kota Limoges sempat dilalap api, begitu pula kantor pariwisata ikonik di Place Bellecour, Lyon.
Bahkan para demonstran perusuh juga sempat menerobos masuk ke balai-balai kota seperti di Marseille, Lille, dan Angers. Sementara di Bordeaux, kediaman pejabat prefektur turut dijarah demonstran.
"Menyampaikan protes adalah sebuah hak, dan kemarahan memang layak untuk didengar. Namun, tidak ada perbedaan pendapat atau keluhan apa pun yang dapat membenarkan perusakan fasilitas umum," ujar Wali Kota Limoges, Guillaume Guerin.
Lebih lanjut di negara Eropa lainnya yakni Portugal, pengunjuk rasa yang merupakan bagian dari serikat pekerja dan kelompok pembela hak akan perumahan menuntut kenaikan upah, perbaikan dana pensiun, peningkatan layanan publik, serta langkah nyata untuk mengatasi masalah keterjangkauan perumahan.
Pihak penyelenggara demonstrasi menyoroti tingginya kenaikan harga sewa, biaya hipotek, dan pengeluaran sehari-hari sebagai tekanan yang kian memberatkan anggaran rumah tangga.
Selanjutnya di Belgia, para demonstran yang melakukan protes di kota Brussels dan Liege atas tingginya biaya hidup sempat bentrok dengan polisi. Sama seperti aksi para pelajar di Prancis yang memprotes kondisi sekolah serta kekurangan tenaga pengajar Dalam beberapa pekan terakhir, para siswa sekolah menengah negara itu juga berunjuk rasa menentang kenaikan biaya pendidikan.
"Situasi yang terjadi bukan lagi sekadar aksi protes, melainkan kekerasan murni," kata Menteri Dalam Negeri Belgia, Bernard Quintin.
Kemudian ada juga di Italia yang diwarnai oleh demonstrasi terkait kondisi ekonomi dan kenaikan harga. Bentrokan antara pengunjuk rasa dengan petugas polisi juga terjadi di Milan, Turin, dan Bologna yang mengakibatkan sejumlah orang terluka, sementara puluhan lainnya ditahan di Milan.
Aksi demonstrasi yang terjadi bukanlah bagian dari satu gerakan tunggal berskala Eropa, dan tuntutan yang diajukan warga di setiap negara pun beragam. Namun, aksi-aksi protes tersebut menunjukkan seberapa beratnya tekanan biaya hidup terhadap keuangan rumah tangga di Eropa saat ini.
Kenaikan harga pangan, biaya perumahan, dan energi telah membuat banyak rumah tangga di Eropa kesulitan untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan pendapatan yang mereka miliki. Bahkan ketika angka inflasi melambat, harga-harga pada umumnya tetap lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, sehingga menyisakan ruang yang lebih sempit dalam anggaran konsumen.
Sementara biaya perumahan menjadi perhatian khusus bagi penyewa dan kaum muda di banyak kota. Sebab para pekerja berpenghasilan rendah harus menghadapi tekanan akibat pengeluaran untuk kebutuhan pokok, sementara kekhawatiran terkait pendidikan dan layanan publik lainnya turut menambah ketidakpuasan di beberapa negara.
Data Eurostat yang dianalisis oleh Euronews Business menunjukkan bahwa harga makanan dan minuman non-alkohol di Uni Eropa naik sebesar 34% antara Agustus 2021 dan Agustus 2026. Jumlah bahan pangan yang dapat dibeli dengan upah minimum bulanan kotor mengalami penurunan sebesar 6% di Malta, 5% di Spanyol, dan 4% di Prancis, sementara di sebagian besar negara yang diteliti, jumlah tersebut justru meningkat.
Namun, perbandingan ini tidak mencakup pajak, sewa tempat tinggal, dan pengeluaran rumah tangga lainnya, sehingga tidak menggambarkan tekanan biaya hidup secara menyeluruh.