"Harus ada kolaborasi, harus ada kreativitas, harus ada inovasi, dan tentunya yang paling penting sesuai dengan RPJMN kita harus melakukan hilirisasi. Kami melihat baru 30% komoditas kami yang dihilirisasi di Lampung," sambungnya.
Strategi hilirisasi dirancang adaptif ke dalam dua pendekatan, hilirisasi skala sentra perdesaan (industri pakan ayam lokal, penanganan pascapanen kopi dan kakao) serta hilirisasi skala lanjut (advance downstreaming) pada kawasan industri manufaktur.
Dorongan nilai tambah ini berjalan beriringan dengan lonjakan adopsi teknologi pertanian pasca kenaikan hasil panen, di mana belanja alat mesin pertanian (alsintan) di Lampung naik hampir 200% dan armada logistik truk naik 50%.
Potensi akselerasi turut disokong oleh diversifikasi sektor energi baru terbarukan (sustainable energy) serta lompatan sektor pariwisata yang membukukan lonjakan arus wisatawan domestik hingga 60% (dari 17 juta pelancong pada 2024 menjadi 27 juta kunjungan pada 2025). Ditambah rasio demografi unggul dimana 71% dari populasi Lampung tergolong angkatan kerja produktif.
Mengakhiri sambutannya, Mirza mengajak otoritas moneter pusat dan perbankan mengawal deregulasi guna menuntaskan potensi sumbatan alur perizinan investasi (bottlenecking).
"Saya yakin salah satu fondasi kemajuan Indonesia itu syaratnya cuma satu, ketika daerah-daerahnya menjadi kuat. Fondasi utama pertumbuhan ekonomi kedepan ketika pertumbuhan di daerah itu akan kuat," tegas Mirza.
"Ketika Lampung tumbuh, Lampung maju, ekonomi masyarakat makmur, cita-cita presiden kita akan tercapai, Indonesia akan jauh lebih makmur ke depan," sambungnya.
Sementara itu, Deputi Gubernur BI Thomas AM Djiwandono mengapresiasi capaian solid pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung yang menembus angka 5,29% pada triwulan II-2026. Capaian tersebut menempatkan Provinsi Lampung sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Pulau Sumatera.
Thomas menjelaskan laju pertumbuhan ekonomi yang ditopang sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian tersebut merupakan buah kerja keras pimpinan daerah dan seluruh pemangku kepentingan.
Meski demikian, ia mengingatkan tantangan utama ke depan adalah bagaimana pertumbuhan tersebut menghadirkan nilai tambah nyata bagi kesejahteraan masyarakat melalui hilirisasi dan masuknya investasi.
"Tantangannya bukan hanya bagaimana ekonomi tumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut menghasilkan nilai tambah yang semakin luas bagi masyarakat. Karena itu, seperti Pak Gub sampaikan, hilirisasi dan investasi menjadi luar biasa pentingnya," ujar Thomas.