Thomas menjelaskan sejalan dengan amanat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), BI kini tidak hanya berfokus pada stabilitas moneter dan inflasi, melainkan turut aktif mendorong pertumbuhan sektor ekonomi riil.

Di tingkat pusat, sinergi dibangun secara terpadu bersama Kementerian Keuangan RI (Kemenkeu), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang berperan sebagai katalis investasi. BI juga siap menggerakkan jaringan kanwil dan perwakilan luar negeri guna menarik minat investor ke berbagai potensi unggulan Lampung.

Terkait pemberdayaan ekonomi kerakyatan, Thomas memaparkan tiga pendekatan strategis BI dalam mengawal Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), yakni penguatan kemitraan usaha, peningkatan kapasitas manajerial dan mutu produk, serta perluasan akses pembiayaan. Komoditas unggulan Lampung seperti olahan pisang, kopi, dan wastra terus didorong agar mampu menembus rantai pasok global serta pasar ekspor.

Langkah penguatan tersebut diperkuat dengan percepatan digitalisasi sistem pembayaran. Berdasarkan data BI, hingga Juli 2026 tercatat sebanyak 1,6 juta pengguna QRIS di Lampung atau tumbuh 17,38% (YoY), dengan keterlibatan 916.000 merchant yang tumbuh signifikan sebesar 29,29% (YoY).

Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung Bimo Epyanto menerangkan penyelenggaraan Lampung Begawi tahun ini membawa konsep baru yang lebih komprehensif dibandingkan perhelatan sebelumnya. Jika sebelumnya berfokus pada pameran produk UMKM, tahun ini turut diorientasikan pada pemetaan sumber pertumbuhan ekonomi baru dan pembukaan ruang investasi.

"Sebelumnya kegiatan seperti ini murni merupakan showcasing dari produk UMKM. Namun demikian, pada tahun ini kami coba untuk memberikan warna bahwa kami ingin menyampaikan informasi apa yang sudah kami lakukan," ujar Bimo.

"Jadi tidak hanya berkaitan dengan pengembangan UMKM, tapi bagaimana kami juga bisa bekerjasama dengan provinsi dan kabupaten/kota di Provinsi Lampung untuk bersama-sama meningkatkan pertumbuhan ekonomi, utamanya tentu saja memberikan nilai tambah bagi produk unggulan Provinsi Lampung," sambungnya.

Terkait percepatan transformasi digital, Bimo menekankan digitalisasi bukan semata-mata pencegahan kebocoran penerimaan, melainkan motor penggerak efisiensi kegiatan ekonomi regional secara menyeluruh.

"Digitalisasi, kami percaya bahwa ini merupakan upaya efisiensi. Bagaimana efisiensi juga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi," jelas Bimo.

"Efisiensi tidak hanya berkaitan dengan untuk bagaimana mengurangi kebocoran pada pengelolaan anggaran, tapi juga efisiensi ekonomi secara umum. Di sinilah kenapa kami secara gencar mempercepat dan memperluas ekosistem ekonomi keuangan digital di daerah," pungkasnya.