Karena itu, GoTo ingin menyediakan fondasi AI yang lebih memahami konteks lokal sekaligus membuka kesempatan bagi pengembang Indonesia untuk menciptakan berbagai layanan berbasis kecerdasan buatan.

Dalam pengembangannya, model AI ini dilatih menggunakan teks berbahasa Indonesia dari sejumlah mitra media dan situs web sektor publik. GoTo juga menggandeng Universitas Sumatera Utara (USU) untuk mengumpulkan data bahasa Batak yang mencerminkan penggunaan bahasa tersebut saat ini.

Secara teknis, model ini memiliki kapasitas konteks hingga 128.000 token, yang memungkinkan AI memproses dokumen panjang atau percakapan dengan banyak informasi dalam satu permintaan.

Dengan 27 miliar parameter, model tersebut masuk kategori menengah. Parameter merupakan nilai yang dipelajari AI selama pelatihan untuk mengenali pola dan menghasilkan respons, meski jumlah parameter tidak otomatis menentukan tingkat akurasi.

GoTo menyebut model ini dapat dijalankan melalui infrastruktur server milik universitas, startup, maupun institusi publik tanpa harus membangun pusat data berskala besar.