Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,06% dan memberikan kontribusi 1,91 poin persentase. Konsumsi pemerintah tumbuh 8,95% dengan kontribusi 0,62 poin.
Penguatan investasi juga terlihat dari realisasi penanaman modal Triwulan III sebesar Rp 528,7 triliun, tumbuh 7,6% yoy, termasuk investasi hilirisasi sebesar Rp 179,9 triliun yang meningkat 19,4%.
Menurut GREAT Institute, kombinasi tersebut memperlihatkan perkembangan yang sejalan dengan pendekatan Prabowonomics, yakni memanfaatkan peran aktif negara untuk mendukung kegiatan ekonomi sekaligus mendorong investasi dan memperbesar kapasitas produksi nasional.
"Ini memberikan sinyal positif bahwa momentum pertumbuhan tidak hanya ditopang belanja negara, tetapi juga penguatan kegiatan produksi. Inilah peluang yang perlu diperbesar melalui agenda industrialisasi dan hilirisasi: investasi harus semakin terhubung dengan pemasok domestik, memperkuat industri nasional, dan menciptakan lebih banyak pekerjaan dengan penghasilan yang layak," kata Ani.
Meski demikian, GREAT Institute mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat perlu diikuti perbaikan kesejahteraan yang lebih luas. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04%, sedikit lebih lambat dibandingkan Triwulan II dan di bawah laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan jutaan rumah tangga di perdesaan hanya tumbuh 0,46% pada Triwulan III. Inflasi kelompok pangan bergejolak pada Oktober juga mencapai 5,81%, lebih tinggi daripada inflasi umum sebesar 3,23%.