Tantangan kesejahteraan tersebut bukan persoalan yang muncul dalam satu triwulan. BPS sebelumnya mencatat jumlah penduduk kelas menengah menurun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024.

Perkembangan itu menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi pekerjaan struktural untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja produktif, meningkatkan pendapatan riil, dan memperkuat mobilitas ekonomi rumah tangga. Penguatan industri dan investasi pada 2026 menjadi kesempatan penting untuk mulai menjawab tantangan tersebut.

Menurut GREAT Institute, terdapat tiga agenda yang perlu diperkuat agar arah Prabowonomics menghasilkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan. Pertama, memastikan ekspansi industri, hilirisasi, dan investasi semakin terhubung dengan pemasok domestik serta penciptaan pekerjaan formal bergaji layak.

Kedua, meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keterjangkauan pangan, sehingga kebijakan ekonomi kerakyatan memberikan manfaat nyata bagi petani maupun konsumen.

Ketiga, memastikan belanja pemerintah dan instrumen investasi negara mampu mendorong investasi produktif swasta melalui kepastian regulasi, tata kelola yang baik, serta pelaksanaan program yang efektif.