NADIKABAR.COM — Peluncuran game terbaru dari Rockstar berjudul Grand Theft Auto (GTA) 6 diprediksi akan membuat Amerika Serikat rugi. Kerugiannya ini diestimasi mencapai belasan triliun rupiah.
Hal tersebut disebabkan oleh rencana orang-orang yang ingin mengambil cuti kerja, demi memainkan sekuel GTA yang sudah lama sangat dinantikan ini. Tebakan itu berasal dari seorang ekonom bernama Jose Garcia Montalvo, yang juga merupakan profesor di Universitas Pompeu Fabra, Barcelona.
Laporan terkait mengklaim bahwa setidaknya sekitar 1,5 juta orang mungkin akan absen kerja pada 19 November 2026. Keputusan ini berpotensi menyebabkan kerugian produktivitas senilai USD 1 miliar atau sekitar Rp 18 triliun.
Kebanyakan karyawan yang akan mengambil cuti ialah pria berusia 18-30 tahun. Diperkirakan perusahaan teknologi yang akan paling merasakan dampaknya.
Hal ini juga didasarkan pada asumsi gaji rata-rata mereka yang akan absen kerja sebesar USD 70 ribu per tahun. Namun perlu diingatkan kembali, bahwa angka-angka ini hanyalah perkiraan dan belum bisa dikonfirmasi, sehingga dampak sebenarnya masih belum jelas.
Namun soal ketidakhadiran orang-orang pada 19 November 2026 juga sudah diprediksi oleh CEO publisher GTA 6 Take-Two Interactive, Strauss Zelnick. Oleh sebab itu, dirinya menepis kekhawatiran gamer soal penundaan game ini.
Seperti diberitakan sebelumnya, kalau game ini awalnya dijadwalkan rilis pada 2 Mei 2025, tapi tak lama kemudian Rockstar mengumumkan penundaan hingga 26 Mei 2026, sampai akhirnya diputuskan untuk meluncurkannya pada 19 November 2026.
Dia juga mengakui prioritas Rockstar saat ini adalah menghadirkan proyek yang melampaui apa pun dalam dunia hiburan, sehingga bukan hanya sekadar game.
"Yang kami pikirkan adalah menciptakan karya hiburan paling spektakuler di Bumi, dalam sejarah - dan itu adalah tantangan yang cukup berat. Jika kita berhasil melakukannya, dan jika kita melayani pelanggan kita dengan baik, maka keuntungan akan datang dengan sendirinya," ujar Zelnick, dilansir Dexerto, Rabu (28/10/2026).