Selain tanaman, hujan juga dapat mengaktifkan organisme lain yang selama ini berada dalam kondisi dorman. Laporan AP menyebut benih, umbi, bahkan telur sejumlah invertebrata dan reptil dapat ikut 'terbangun' setelah mendapatkan kondisi lingkungan yang sesuai.

Atacama memiliki kondisi yang sangat ekstrem. Sebagian wilayahnya menerima curah hujan yang sangat sedikit sepanjang tahun. Namun, posisi geografis Chile membuat wilayah tersebut dapat mengalami perubahan besar ketika pola atmosfer dan laut berubah akibat El Nino.

Dalam kondisi El Nino, perubahan suhu permukaan laut di Pasifik tropis dapat mengubah pola atmosfer dan curah hujan di berbagai wilayah dunia. Pantai barat Amerika Selatan termasuk salah satu kawasan yang dapat mengalami peningkatan curah hujan ketika El Niño kuat terjadi.

Tahun ini, hujan yang sangat deras terjadi di sebagian wilayah utara Chile. Beberapa lokasi bahkan mencatat curah hujan hingga sekitar 190 milimeter. Jumlah tersebut sangat besar untuk kawasan yang biasanya sangat kering.

Air hujan kemudian meresap ke tanah dan memicu perkecambahan benih serta pertumbuhan tanaman. Fenomena ini bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Penelitian mengenai respons flora Gurun Atacama dan Peru terhadap El Nino 1982-1983 menunjukkan bahwa hujan akibat El Niño memang dapat memicu pembungaan besar di kawasan gurun tersebut.

Meski terlihat seperti padang bunga, kondisi dasar Atacama tetap sangat kering. Ledakan kehidupan yang tampak berwarna-warni tersebut bersifat sementara. Ketika musim kering kembali mendominasi, bunga akan menghilang dan tanaman meninggalkan benih atau umbi di dalam tanah.

Benih tersebut kemudian dapat kembali dorman dan menunggu hujan besar berikutnya. Karena itu, desierto florido bukan perubahan permanen dari gurun menjadi padang rumput. Fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai ledakan kehidupan singkat setelah datangnya air dalam jumlah yang sangat jarang.