Banyak bunga diperkirakan akan menghilang menjelang akhir musim semi di belahan Bumi selatan, meninggalkan benih dan umbi yang menunggu kondisi hujan berikutnya. Fenomena Atacama menunjukkan bagaimana tumbuhan dapat beradaptasi terhadap lingkungan yang ekstrem.

Daripada terus tumbuh dan kehilangan air ketika kondisi tidak memungkinkan, sebagian tanaman memilih strategi berbeda, yakni menunggu. Benih atau struktur bawah tanah tetap berada dalam keadaan dorman selama periode kering. Ketika hujan besar datang, sistem tersebut segera aktif, tanaman tumbuh, berbunga, dan bereproduksi dalam waktu yang relatif singkat.

Strategi ini memungkinkan tumbuhan bertahan di salah satu lingkungan paling kering di planet ini. Penelitian terhadap peristiwa El Niño sebelumnya juga menunjukkan bahwa episode hujan langka dapat menghasilkan ledakan keanekaragaman dan kepadatan tanaman yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

Di sisi lain, bagi wisatawan dan fotografer, desierto florido menjadi pemandangan spektakuler. Gurun yang biasanya didominasi tanah dan bebatuan berubah menjadi hamparan warna-warni dengan latar Pegunungan Atacama.

Namun, fenomena tersebut memiliki umur pendek. Ketika suhu dan kondisi kering kembali, bunga-bunga akan layu. Yang tersisa hanyalah benih dan umbi yang kembali masuk ke fase dorman.

Justru siklus tersebut yang membuat desierto florido begitu istimewa. Gurun tidak benar-benar mati, melainkan menyimpan kehidupan yang menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali.

Fenomena tahun 2026 menjadi salah satu contoh paling spektakuler tentang bagaimana perubahan iklim regional akibat El Nino dapat mengubah sementara wajah sebuah ekosistem yang selama ini dikenal sangat ekstrem.