NADIKABAR.COM — Jakarta (NadiKabar) – Kebutuhan rumah di Jawa Tengah yang masih mencapai sekitar 990.000 unit membuka peluang besar bagi pengembangan industri perumahan. Namun, tantangannya bukan sekadar menambah jumlah rumah, melainkan juga memastikan hunian yang dibangun terjangkau, layak, nyaman, dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Persoalan tersebut menjadi fokus PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) dalam roadshow BTN Housingpreneur Batch 3 di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Senin (19/10). Mengusung tema “Rumah Zaman Now: Jawab Kebutuhan, Wujudkan Kelayakan”, kegiatan ini mengajak mahasiswa, akademisi, dan pelaku industri mengembangkan inovasi yang menjawab persoalan nyata di sektor perumahan.

Regional Head BTN Kantor Wilayah Jawa Tengah dan DIY Fitri Novianty R. Kusuma mengatakan, berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, kebutuhan rumah di wilayah tersebut masih sekitar 990.000 unit. Kondisi ini menunjukkan bahwa prospek bisnis perumahan masih terbuka lebar, termasuk bagi pengembangan ekosistem pendukungnya.

“Ketika kita berbicara tentang perumahan, yang terbayang mungkin adalah rumah dan bangunan. Padahal, ekosistem housing jauh lebih luas, mulai dari desain dan tata kota, material, konstruksi, teknologi, solusi digital, efisiensi energi, hingga akses pembiayaan. Tantangannya bukan hanya membangun lebih banyak rumah, tetapi bagaimana menghadirkan hunian yang terjangkau, berkualitas, dan berkelanjutan,” ujar Fitri.

Menurut Fitri, BTN saat ini juga terus memperluas perannya melalui strategi Beyond Mortgage, yakni mengembangkan bisnis yang tidak hanya berfokus pada KPR, tetapi juga ekosistem perumahan dan layanan digital. Di sisi layanan, BTN juga telah menghadirkan Digital Store BTN KCP Karangayu, Semarang, sebagai bagian dari penguatan transformasi digital.

Melalui BTN Housingpreneur, Fitri berharap mahasiswa dan pelaku usaha Jawa Tengah dapat mengembangkan gagasan baru, termasuk kawasan hunian yang terintegrasi dengan berbagai fasilitas pendukung kehidupan masyarakat.

“Ide yang baik tidak harus langsung sempurna. Yang penting berangkat dari kebutuhan nyata dan memiliki manfaat,” katanya.