NADIKABAR.COM — Laporan intelijen militer Amerika Serikat (AS) nyaris memicu konflik bersenjata secara langsung dengan China akibat kesalahan analisis kecerdasan buatan (AI). Sebuah chatbot AI yang digunakan oleh analis militer AS secara tidak akurat mengidentifikasi kargo kapal China di Timur Tengah sebagai komponen program senjata nuklir.

Insiden berisiko tinggi ini terjadi di tengah berlangsungnya konflik AS dengan Iran, di mana pasukan militer AS sempat bersiap melancarkan operasi penghentian dan penggeledahan terhadap kapal tersebut sebelum akhirnya dibatalkan di menit-menit terakhir.

Berdasarkan laporan sumber internal militer AS, personel bersenjata dan pesawat tempur telah disiagakan untuk menyergap kapal kargo milik China tersebut. Namun, pemeriksaan mendalam yang dilakukan sesaat sebelum eksekusi mengungkapkan bahwa laporan buatan analis Komando Operasi Khusus tersebut sepenuhnya keliru.

Analis yang bertugas menggunakan chatbot AI untuk memproses manifests kapal berdasarkan data US Special Operations Command Pacific di Hawaii. Sistem AI tersebut menggabungkan data intelijen sumber terbuka (OSINT) dengan data sinyal rahasia (SIGINT), lalu menghasilkan kesimpulan keliru mengenai muatan kapal.

Analis kemudian mengemas hasil analisis AI tersebut ke dalam format laporan standar intelijen dan mendistribusikannya ke jajaran komando militer tanpa verifikasi memadai.

Insiden ini menyoroti risiko fatal dari integrasi AI dalam pembuatan keputusan militer dan penentuan target (targeting):

Meski penggunaan AI ditujukan untuk mempercepat pengambilan keputusan di medan perang agar tidak tertinggal dari negara pesaing, peristiwa ini menjadi peringatan keras mengenai bahaya pembuatan keputusan fatal berbasis data AI yang terdistorsi, demikian dikutip NadiKabar dari NadiKabar, Sabtu (19/9/2026).