Di Bumi, pergantian musim terjadi semata-mata karena kemiringan sumbu planet sebesar 23,5 derajat. Artinya, saat planet kita mengelilingi Matahari, satu belahan bumi menerima lebih banyak cahaya, dan enam bulan kemudian kondisinya berbalik. Jika suatu wilayah menerima lebih banyak cahaya, berarti wilayah tersebut sedang mengalami musim semi atau musim panas.

Mars memiliki kemiringan sumbu yang serupa, yakni sekitar 25 derajat, tapi bukan itu satu-satunya faktor yang berpengaruh. Meskipun orbit Bumi cenderung melingkar, orbit Mars jauh lebih elips. Hal ini menyebabkan durasi musim-musimnya tidak sama. Musim semi di belahan bumi utara berlangsung lebih lama dibandingkan musim gugur di belahan bumi utara (192 sol dibandingkan dengan 142 sol).

Fakta ini juga mengaitkan badai debu dengan pergantian musim. Belahan bumi selatan mengalami musim semi dan musim panas yang lebih singkat, namun karena planet ini berada lebih dekat dengan Matahari pada periode tersebut, atmosfer menjadi lebih turbulen. Turbulensi inilah yang memicu badai debu-badai yang begitu dahsyat hingga mampu menghalangi sinar Matahari selama berminggu-minggu.

Tahun Baru Mars berikutnya akan jatuh pada tanggal 17 Agustus 2028. Demikian melansir IFLScience, Jumat (2/10/2026).