Sementara itu, Wakil Kepala Produksi Peternak Curug Maju Bersama Agus Sunarto mengatakan harga ayam telah berada dalam kondisi buruk sejak awal bulan sebelumnya. Ia melihat kemungkinan terjadinya kelebihan produksi yang turut diperparah dengan melemahnya permintaan di tengah kondisi ekonomi saat ini.
"Biaya produksi sekarang sangat tinggi. Harga pakan terus naik dan DOC sudah di atas Rp 8.800 per ekor. HPP kami sekitar Rp 23.000 per kilogram, sedangkan harga ayam di kandang hanya Rp 17.500 per kilogram," ujar Agus.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus memperkuat langkah stabilisasi harga telur ayam ras di tingkat produsen, khususnya di sejumlah sentra produksi yang mengalami tekanan harga. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong percepatan penyerapan telur melalui BUMN pangan, yakni Holding BUMN Pangan ID FOOD dan Perum Bulog.
ID FOOD dan Perum Bulog menyiapkan penyerapan sebesar Rp 30 miliar, dengan pembagian masing-masing Rp 15 miliar. Pelaksanaannya diprioritaskan bagi peternak mikro dan kecil, termasuk yang tergabung dalam koperasi maupun asosiasi peternak, terutama di wilayah yang mengalami tekanan harga.
Direktur Utama ID FOOD Ghimoyo mengatakan, sinergi tersebut merupakan langkah konkret dalam mendukung program pemerintah untuk menjaga keberlanjutan usaha peternakan rakyat sekaligus memperkuat ekosistem perdagangan pangan nasional.
"Ketika harga telur di tingkat peternak mengalami tekanan, diperlukan langkah bersama untuk menjaga keberlangsungan usaha mereka. Melalui program yang didorong Kementerian Pertanian dan Bapanas ini, ID FOOD bersama Bulog mengambil peran dalam mempercepat penyerapan, sehingga peternak memiliki kepastian pasar dan hasil produksinya tetap dapat tersalurkan kepada konsumen," ujarnya dalam keterangan.
Ia menjelaskan, pelaksanaan program penyerapan telah berjalan sejak akhir Oktober 2026. Hingga 3 November 2026 ini, ID FOOD telah menyerap sebanyak 153.600 kilogram atau sekitar 153,6 ton telur ayam ras dari peternak, dengan nilai transaksi mencapai Rp3,433 miliar.
Realisasi tersebut merupakan bagian dari alokasi penyerapan ID FOOD sebesar Rp15 miliar yang ditargetkan dapat diselesaikan pada November 2026. Dengan demikian, masih terdapat alokasi sekitar Rp11,567 miliar yang akan dioptimalkan melalui tahapan penyerapan berikutnya.