"Penyerapan akan terus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan pasokan, kebutuhan pasar, serta kelancaran distribusi. Kami berupaya mempercepat realisasinya agar manfaat program dapat segera dirasakan oleh peternak, khususnya pelaku usaha mikro dan kecil," jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, koordinasi lintas lembaga menjadi bagian penting untuk memastikan program berjalan tepat sasaran. Kementan dan Bapanas bersama Badan Gizi Nasional (BGN), ID FOOD, Bulog, serta koperasi dan asosiasi peternak terus memperkuat sinergi dalam mengidentifikasi wilayah prioritas, ketersediaan pasokan, dan kebutuhan pasar.

Penyerapan diarahkan pada sentra-sentra produksi yang mengalami tekanan harga, terutama di Pulau Jawa, Lampung, dan Sulawesi Selatan, dengan mengacu pada harga pembelian minimal Rp 24.000 per kilogram. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menjaga tingkat harga yang diterima peternak sekaligus mendukung kelancaran penyaluran hasil produksi.

Selain aspek penyerapan, kelancaran distribusi juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan program. Telur merupakan komoditas pangan dengan masa simpan terbatas, sehingga diperlukan dukungan jaringan perdagangan, pengangkutan, dan saluran pemasaran yang memadai agar hasil produksi peternak dapat segera menjangkau pasar.

Dalam mendukung kebutuhan tersebut, pihaknya mengoptimalkan jaringan perdagangan dan distribusi pangan yang dimiliki perusahaan, termasuk memperkuat koordinasi antara sumber pasokan, armada pengangkutan, dan pasar tujuan.

"Penyerapan tidak hanya berfokus pada pembelian telur dari peternak, tetapi juga memastikan produk yang diserap memiliki saluran pemasaran yang jelas. Karena itu, kecepatan distribusi dan kepastian pasar menjadi faktor penting agar program ini berjalan efektif dan berkelanjutan," kata Ghimoyo.

Ia berharap, langkah bersama ini dapat memberikan manfaat langsung bagi peternak, terutama dalam menjaga kepastian penjualan hasil produksi. "Sinergi yang terbangun juga diharapkan semakin memperkuat keterhubungan antara sentra produksi dan pasar, sehingga tercipta ekosistem pangan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan," sebutnya.