NADIKABAR.COM — Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat meningkat dari 116 menjadi 131 dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Kenaikan ini terjadi seiring penguatan harga gabah dan jagung di tingkat petani, serta percepatan penyaluran pupuk bersubsidi.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) mengingatkan, penguatan ketahanan pangan harus diikuti perbaikan kesejahteraan masyarakat yang bekerja di sektor pangan.

Menurutnya, capaian produksi dan ketersediaan pangan harus dirasakan langsung oleh petani, nelayan, dan masyarakat desa.

"Alhamdulillah, ikhtiar memperkuat kedaulatan pangan mulai menunjukkan hasil. Kita bersyukur Indonesia semakin mampu memenuhi kebutuhan pangan dari dalam negeri. Namun, capaian ini harus dirasakan oleh petani, nelayan, dan masyarakat yang selama ini suaranya kerap kurang terdengar dalam rantai pangan. Inilah amanah yang harus kita jaga bersama," ujar Zulhas.

Di sektor pertanian, pemerintah menetapkan harga gabah di tingkat petani minimal Rp6.500 per kilogram dan harga jagung minimal Rp5.500 per kilogram.

Selain itu, aturan distribusi pupuk bersubsidi dibuat lebih sederhana, agar penyalurannya lebih cepat sampai kepada petani.

Perbaikan di sektor produksi itu berlangsung di tengah penguatan ketersediaan pangan nasional. Dalam dua tahun terakhir, Indonesia tidak lagi mengimpor beras untuk konsumsi masyarakat dan telah mencapai swasembada pada delapan komoditas, yakni beras, jagung, gula konsumsi, cabai rawit, cabai besar, telur ayam, daging ayam, dan bawang merah.