Ia sendiri mengaku bingung kenapa produksi kedelai lokal setiap tahun terus mengalami penurunan hingga kini hilang dari pasar. Sebab menurutnya kedelai lokal memiliki kandungan pati (aci) yang tinggi sehingga sangat cocok untuk dijadikan tahu.

Bahkan dulu ia mengaku sering mencampur kedelai lokal dengan impor untuk mendapat produk tahu yang baik. Menggabungkan keunggulan produk lokal yang penuh zat pati dengan produk impor yang lebih bersih dan putih.

"Saya juga bingung itu kenapa kacang lokal kok sekarang sudah nggak ada, bingungnya di situ. Padahal ini kan tahu yang diambil aci-nya. Untuk lokal sebenarnya bagus aci-nya. Cuma memang kacangnya nggak ada atau gimana ya? Itu bingung. Dulu saya campuran sama lokal waktu gampang, masih muda cari lokalnya" paparnya.

Setelah kedelai lokal mulai langka, Sudiarto mengaku pernah mencoba menggunakan bahan baku kedelai impor dari negara lain seperti China. Sebab selain AS, China merupakan salah satu negara importir biji kedelai di Indonesia.

Namun, hasil produksi tahu dari kedelai asal China dinilai kurang mumpuni. Menurutnya hal ini dikarenakan kandungan pati yang lebih rendah dari kedelai lokal maupun AS, membuat jumlah tahu yang bisa dihasilkan jadi menurun.