"China kedelainya bagus, cuma aci-nya kurang. Kalau menurut saya aci-nya kurang. Saya pernah coba dulu, kacangnya bagus, tapi aci-nya yang kurang," terangnya.
Menurut Sudiarto, kandungan aci merupakan inti utama dari produksi tahu. Jika kandungan pati pada kedelai rendah, volume tahu yang dihasilkan dari tiap kuintal kedelai akan berkurang drastis.
Di tengah harga bahan baku yang mahal, memilih kedelai yang rendah aci dipastikan bisa memicu kerugian bagi perajin. Berbeda jika kedelai itu digunakan untuk produksi tempe yang menggunakan biji kedelai utuh.
"Tahu yang diambil acinya. Kalau tempe kan nggak ambil aci, ngambilnya ininya (kedelainya). Itu bedanya tempe sama tahu. Sudah acinya kurang, saat ini harga lagi naik, akhirnya kita pasti minus, itu pasti," jelasnya.
Kondisi inilah yang kemudian membuat para perajin jadi sangat bergantung pada kedelai AS, meski harganya berulang kali naik di pasaran.