Lagi pula, lonjakan permintaan dan harga masker selama dua hari ini tak seperti saat pandemi Covid-19 pertama kali terjadi. Sehingga ia juga tidak perlu stok masker terlalu banyak, dan langsung menghabiskan yang ada.
"Nggak seperti Covid lah. Naiknya cuma Rp 10.000, Rp 5.000, atau sampai paling tinggi Rp 15.000 gitu dari pemesanan yang biasa. Permintaan juga nggak sebanyak kayak Covid, tapi ada. Nggak mau stok banyak-banyak. Nanti giliran erupsi sudah habis, ya masker tetap kita jual cuma harganya nggak mungkin semahal sekarang," kata Yana.
Sementara itu, salah seorang pedagang di Pasar Pramuka lain, Selly, mengatakan kondisi ramai pembeli sudah terjadi sejak minggu (6/9) kemarin saat kabar erupsi Gunung Anak Krakatau tersebar. Sementara puncak keramaian baru terjadi pada Senin (7/9).
Menurutnya mayoritas pengunjung datang untuk mencari masker. Bahkan tidak hanya datang langsung ke area pasar, ia mengaku sejumlah langganan sudah menghubungi langsung via aplikasi berbagi WhatsApp terkait harga dan ketersediaan stok masker di tokonya.
Selly mengatakan kondisi ini sangat berbeda dengan suasana pasar sehari-hari di mana pengunjung yang datang biasanya hanya langganan toko saja. Namun kini Pasar Pramuka mulai dipadati pengunjung harian juga.
"Kalau permintaan masker banyak. Ada saja sih yang nanya melalui WhatsApp ataupun orang datang langsung banyak ke sini. Kemarin lah lebih banyak yang cari. Jadi ada perputaran di sini. Kalau nggak cuma langganan biasa yang ke sini. Kalau orang ke pasar mah sudah jarang sekarang," ujar Selly.