Ekspor minyak mentah Arab Saudi pada Oktober juga meningkat dibandingkan September, menurut dua dari tiga perusahaan pelacak kapal.
Di sisi lain, perang Iran yang pecah pada akhir Februari telah menguras persediaan minyak dunia. CEO perusahaan minyak negara Abu Dhabi, ADNOC, Sultan Al Jaber mengatakan hampir 1 miliar barel minyak telah diambil dari persediaan global sejak perang mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz.
Meski harga minyak turun, sejumlah analis menilai harga tersebut masih berpotensi kembali meningkat.
Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent dapat melonjak hingga US$140 per barel pada 2027 apabila produksi minyak di kawasan Teluk tetap berada 3,5 juta barel per hari di bawah rata-rata produksi 2025.
Dalam laporannya, Goldman Sachs menyebut peningkatan serangan terhadap pelayaran, kerusakan infrastruktur minyak, serta premi risiko yang lebih persisten masih menjadi pemicu utama potensi kenaikan harga.
"Peningkatan serangan terhadap pelayaran, kerusakan infrastruktur minyak, dan premi risiko yang bertahan lebih lama masih menjadi pemicu utama potensi kenaikan harga," tulis Goldman Sachs.