NADIKABAR.COM — Harga minyak dunia naik 4% pada penutupan perdagangan Kamis (8/10). Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan akibat badai yang mendekati Pantai Teluk Amerika Serikat (AS).

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup menguat 4,1% atau sekitar US$ 4,08 menjadi menjadi $104,28. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 3,6% atau sekitar US$ 3,21 menjadi US$ 91,49.

Dalam perdagangan intraday, kedua acuan harga minyak mentah dunia itu bahkan sempat melonjak hingga US$ 5 per barel, mencapai level tertinggi sejak 29 September. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi serangan AS ke Iran serta Badai Isaias yang diperkirakan terjadi hari ini, Jumat (9/10).

Sebelumnya, harga minyak sempat melemah usai Presiden AS Donald Trump mengaku tengah berdiskusi dengan Iran. Saat itu Trump menjamin tidak ada serangan atas Iran hingga pemilihan paruh waktu di AS selesai.

Sementara Iran, dikabarkan tengah meninjau tanggapan AS terhadap proposalnya untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan akan memberikan jawaban atas tanggapan tersebut dalam beberapa hari ke depan.

Meski begitu, AS tetap menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran Kamis lalu. Sanksi ini berlaku terhadap individu, jaringan, dan 17 kapal yang mengangkut minyak mentah, produk minyak, dan petrokimia Iran.

Di sisi lain, Prancis dan Arab Saudi dikabarkan tengah mengkaji opsi untuk menerjunkan aset militernya untuk membantu melindungi terminal minyak Yanbu. Suriah juga disebut mempertimbangkan untuk memberi bantuan militer kepada Arab Saudi dalam konfliknya dengan Houthi.

Opsi yang sedang dipertimbangkan Suriah mencakup bantuan defensif atau pengerahan pasukan dalam kapasitas ofensif untuk membantu pasukan Yaman yang didukung Saudi.

Harga minyak dunia turun setelah Badan Energi Internasional (IEA) menyepakati percepatan pelepasan cadangan minyak dan memprioritaskan pasokan diesel. Langkah ini diambil saat sejumlah pemerintah menghadapi lonjakan harga bahan bakar dan gangguan pasokan akibat perang.

Sementara itu, ancaman terhadap pengiriman minyak di Teluk dan Selat Hormuz meningkat pada Oktober. Sebelum perang, jalur tersebut dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan bahan bakar dunia.

Pekan lalu, serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz meningkat ke level tertinggi sejak perang dimulai. Namun begitu, negara-negara produsen di kawasan Teluk disebut mulai meningkatkan ekspor.

"Frekuensi serangan Iran terhadap kapal kini berada pada titik tertinggi sejak perang dimulai, dan kemungkinan akan semakin meningkat," kata kepala energi MST Marquee, Saul Kavonic, dikutip dari Reuters, Jumat (9/10/2026).

Di sisi lain, Badai Isaias dikabarkan bergerak menuju area produksi lepas pantai AS yang mendorong sejumlah perusahaan untuk menutup anjungan. Produsen minyak dan gas (migas) di Teluk Meksiko AS juga dikabarkan telah menghentikan produksi sekitar 1,3 juta barel per hari atau sekitar 62,9% dari produksi minyak.

Kemudian pada Rabu (7/10) perusahaan seperti Shell dan Chevron mengaku telah mengurangi operasi lepas pantai di Teluk. Aementara BP menyatakan telah memberhentikan seluruh personel dan menghentikan produksi di platform Na Kika dan Thunder Horse.