Pembatalan pengiriman ini utamanya memang disebabkan oleh penutupan pipa Timur-Barat (East-West pipeline) yang kini menjadi jalur utama pengiriman ekspor minyak Arab Saudi pasca penutupan Selat Hormuz dengan kapasitas angkut hingga 7 juta barel per hari.
"Serangan terhadap infrastruktur minyak menandai eskalasi konflik yang signifikan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya skenario kenaikan harga, di mana harga minyak Brent melampaui US$ 120 per barel," kata Yulia Zhestkova Grigsby, ahli strategi komoditas senior di Goldman Sachs.
Pihak Arab Saudi menyebut penutupan pipa tersebut sebagai langkah pencegahan. Namun sampai saat ini belum memberikan keterangan terkait nilai kerusakan ataupun perkiraan mengenai berapa lama gangguan operasional itu akan berlangsung.
Meski di sisi lain, Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright mengatakan bahwa penghentian operasional jalur pipa tersebut diperkirakan hanya sementara dan akan kembali normal dalam beberapa hari.