"Model China kini cukup mumpuni untuk mengerjakan lebih banyak tugas dengan biaya jauh lebih rendah. Begitu sebuah model memenuhi standar kualitas untuk suatu pekerjaan, perbedaan harga tersebut akan sangat memikat," imbuhnya,
Namun ia menambahkan perusahaan-perusahaan masih ingin menggunakan model AS kelas atas untuk mengerjakan beberapa tugas yang lebih rumit.
Pebisnis di kawasan yang didefinisikan OpenRouter sebagai Global South menjadi kelompok pengguna terbesar model AI China di sistem perusahaan tersebut dalam beberapa minggu terakhir.
"Asia Tenggara khususnya, mungkin akan mencatat lonjakan adopsi signifikan terhadap model AI China mengingat hubungan ekonomi dan budaya erat dengan China ditambah infrastruktur digital yang terus berkembang," kata Remler dari CNAS, dikutip NadiKabar dari CNBC.
"Di mana pun itu, mulai dari Lagos, Sao Paulo, hingga Jakarta, para pengusaha dan pemerintah yang mencari model open source murah akan pertama kali menoleh pada AI buatan China," cetusnya.