Menurutnya, dinamika harga saham disebabkan oleh aspek teknis. Hal tersebut terjadi setelah aturan baru BEI terkait batas bawah harga saham yang tidak lagi di level Rp 50.

Ia menegaskan, GOTO mencetak laba bersih Rp 252 miliar pada kuartal II-2026. Pendapatan bersih GOTO tercatat sebesar Rp 5,7 triliun dengan adjusted EBITDA mencapai lebih dari Rp 1 triliun.

"Kami juga tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp 3,2 triliun - Rp 3,4 triliun. Kami tetap fokus memperkuat kinerja bisnis, yang kami yakini akan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham," pungkasnya.