Dengan kehidupan santri yang berlangsung di lingkungan pesantren, pengasuh memiliki ruang lebih luas untuk membangun sistem pencegahan dan pengawasan.
Alisa mengatakan, salah satu tantangan dalam mewujudkan pesantren ramah anak adalah mengubah pandangan bahwa hukuman fisik merupakan bagian penting dari proses mendisiplinkan santri.
Di samping itu, ia menilai masih ada pendidik yang menganggap keberhasilan membangun kedisiplinan tidak terlepas dari hukuman fisik. Akibatnya, sebagian pendidik khawatir santri akan menjadi tidak patuh atau kurang menghormati guru apabila hukuman fisik dihilangkan.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Alissa menyebut pihaknya selama setahun terakhir telah memberikan pelatihan kepada guru, ustaz, serta musyrif dan musyrifah mengenai pola pengasuhan dan penegakan disiplin positif.
βOrang banyak salah mengira disiplin positif itu artinya permisif. Hukuman itu penting. Hukuman tetap penting,β kata Alissa.
Namun, ia menekankan bahwa konsekuensi atas pelanggaran harus diterapkan tanpa merendahkan harga diri atau martabat anak. Tujuannya bukan untuk menyalahkan, melainkan membantu santri memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.