Hashim mengungkapkan gagasan MBG sebenarnya sudah muncul sejak 2006. Kala itu, Prabowo menyampaikan kekhawatirannya terhadap kualitas pendidikan dan gizi anak-anak Indonesia, terutama karena angka stunting yang disebut mencapai 30%.
"Sebenarnya, gagasan awal program ini sudah muncul pada 2006. Saat itu saya sedang tinggal di Eropa, dan dia (Prabowo) memanggil saya ke kantornya," ujarnya.
Menurut Hashim, kekurangan gizi berpotensi menghambat Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi. Ia khawatir anak-anak yang mengalami stunting akan menghadapi hambatan perkembangan hingga berdampak pada produktivitas ketika memasuki usia kerja.
Hashim juga mengungkapkan hasil kajian pemerintah sebelumnya yang menunjukkan sekitar 41% anak sekolah di Indonesia berangkat tanpa sarapan. Kondisi tersebut dinilai memengaruhi konsentrasi dan kemampuan siswa dalam menyerap pelajaran.