NADIKABAR.COM — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah investor di pasar modal Indonesia sebanyak 32,7 juta. Namun investor tersebut disebut tidak puas dengan kondisi pasar modal saat ini.
Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, mengatakan ketidakpuasan investor terjadi karena nilai saham di pasar modal domestik menurun tajam. Hal tersebut terjadi imbas ancaman turun kasta dari Emerging Market menjadi Standalone Market di indeks MSCI.
"Masalah yang kita hadapi, saudara-saudara, kalau MSCI tidak kita mitigasi, berarti sumber dana untuk pasar modal kita akan nanti semakin kering. Betul ya Pak Rosan (CEO BPI Danantara)? Banyak akan nanti keluar karena terpaksa kalau kita di-downgrade menjadi Standalone Market," ungkap Hashim dalam sambutannya di acara Rapimnas Kadin Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (29/10/2026).
"Menurut OJK, tercatat hari ini 32.700.000 individu warga negara Indonesia yang memiliki brokerage accounts. Yang memiliki akun-akun brokerage. Dengan kata lain, mereka ikut investasi melalui bursa. Nah masalah adalah saat ini 32.700.000 warga Indonesia sangat tidak puas dengan keadaan, tidak berbahagia karena nilai mereka, saham, berkurang," tambahnya.
Hashim sebagai investor juga mengaku tidak puas dengan kondisi pasar modal saat ini. Namun begitu, ia menegaskan ancaman turun kasta ini harus segera dimitigasi untuk mengembalikan kepercayaan investor.
"Saya juga punya saham di perusahaan publik, saya tidak puas. Maka pemerintah hendaknya memperhatikan masalah ini," tegasnya.
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi itu juga mengaku ditugaskan untuk menangani persoalan tersebut. Ia mengatakan, Presiden Prabowo Subianto tidak ingin 32,7 juta investor pasar modal tidak puas dengan pasar modal Indonesia.
"MSCI ini kita harus mitigasi. Saya ditugaskan Presiden, Pak Rosan tahu ini, untuk membantu supaya jangan diluar kendali. Jangan sampai 32.700.000 warga negara Indonesia tidak puas dengan situasi seperti ini," pungkasnya.